Aku
mengajak Dhini ke perpustakaan umum untuk meredam sedikit rasa kecewanya karena
batal ke toko buku. Disana kami bukannya membaca namun saling menopang dagu. Duduk menerawang jauh ke luar
jendela.
“Kira-kira Sanu suka sama gue gak ya?”
“Eh? Lo masih suka dia, Dhin?”
“Iya, lagi suka-sukanya. Ah, bisa gila gue. Emang lo udah
gak suka Andi, Cha?”
“Masih lah.”
“Hm... gimana kalo kita jadi informan? Gue cari tau
tentang Andi, lo cari tau tentang Sanu. Deal? Ayolah... gue penasaran
dia suka gue apa enggak.”
“Enggak. Enggak. Itu konyol. Gue gak mau. Titik! Tik
tik.”
*******
Aku menangis tersedu dalam shalat malamku. Menengadahkan
kedua tanganku bak seorang pengemis yang meminta belas kasihan.
“Ya Allah... aku kenapa? Kenapa ada bayang-bayang dia
dalam ibadahku? Belajarku? Ya Rabb... ampuni aku jika hambaMu yang lemah ini
telah bermaksiat. Jika pikiran, hati, dan mata ini telah berzina. Tak
selayaknya aku mencintai seorang hambaMu melebihi rasa cinta terhadap Engkau
dan Rasulku...”
*******
Aku meraih handphone yang tergeletak tidak jauh dari
tempat tidurku. Awalnya untuk mengatur jam alarm. Namun tiba-tiba saja aku
berubah pikiran. Aku malah sms Andi dan bilang bahwa aku suka Yudhi. Yaampun..
aku tahu aku salah, tak seharusnya aku berbohong hanya untuk memancing agar aku
tahu perasaan dia. Siapa perempuan yang benar-benar ia suka. Dan ternyata di
hatinya memang hanya ada satu nama, yaitu Yanti bukan aku.
*******
“Eh Cha, mau tau nggak?”
“Apa?”
“Lo tau kan kemaren kita pada pulang sore? Gue hampir
bilang ke Andi”
“Hah? Yudhi! Gila lo! Parah parah!”
“Tapi gak jadi kog. Kemaren baru bilang ‘Ndi, lo nyadar
nggak si kalo ada cewek yang suka sama lo?’. Eh dia malah bilang ‘Eh iya Yud,
gue juga mau bilang gitu. Sebenernya ada cewek yang lagi suka sama lo juga’.
Gue pikir......”
“Eh eh Yud udah dulu ya, dipanggil ni gue.”, kataku
memotong pembicaraan Yudhi yang belum selesai.”
*******
Tap. Tap. Tap.. gubrak! Tubuhku bagai ditimpa berton-ton
gula pasir. Melemaskan otot-ototku. Aaaahh.. aku begitu panik. Mungkin karena homeostatisku
yang tidak begitu bagus. Bergegas aku mencari teman-teman Onk.
“Gawat.. gawat..”, ucapku panik.
“kenapa sih Cha? Tarik napas dulu..”, putri yang keibuan
berusaha menenangkan.
“Huah gue baru inget kalo pernah bilang ke Andi gue suka
Yudhi. Padahal itu nggak beneran. Yaampuun.. gimana ini? gimana kalo mereka
saling curhat? Kan gak lucu, Yudhi bilang gue suka Andi, Andi bilang gue suka
Yudhi..”, rasanya ingin sekali berteriak.
“Tenang Cha tenang. Udah sekarang kamu temuin Yudhi.
Ceritain semuanya biar lega.”, Nia menyarankan.
“Duh gimana ya? Gimana kalo dia marah besar? Yaudah deh,
gue mau shalat dzuhur dulu, abis itu langsung nemuin Yudhi.”
*******
“Mau ngomong apa si?’
“Yudhi.. sebelumnya gue mau minta maaf. Jangan mikir yang
macem-macem. Jangan narik kesimpulan sendiri. Jangan potong omongan gue. Oke?
Gue pernah bilang ke Andi.. kalo.. kalo.. kalo gue suka sama lo. Tapi ini gak
beneran kog. Jangan salah sangka. Huah, maaf.”, aku tertunduk lemah memainkan
ujung kerudungku.
“Yaelah.. udah? Itu doang? Udah gue duga kali Cha. Gue
pikir mau ngomong apaan. Ticha, lo kalo suka sama orang jangan nyiksa diri lo
kayak gini dong. Hayo dah nangis..”
“Ih ih, enggak kog. Gue gak secengeng itu.”, kataku
menegar-negarkan diri.
“Terus sekarang mau lo apa? Lo mau jadian ama dia?”
“Ngaco. Kagak lah. Yaudah ah gue balik, ada urusan nih. Thanks
Yud. Sorry ya..”
“Kemana lo? Perpus?”
“Yohaaa..”
*******
Sepanjang jalan aku merenungkan kata-kata Yudhi tadi ‘kalo
suka sama orang jangan nyiksa diri lo gini dong.’
Tawaran lo msh brlaku?
Ide konyol itu. Gw se7
Aku menekan tombol send di 5220XpressMusic’ku
Ok deal. Kita jadi informan ya sekarang
Aku membaca pelan balasan dari Dhini.
Langsung sja tanpa berpikir panjang aku sms
Sanu. Menanyakan banyak hal mengenai dia. Sempat heran kenapa dia mau
menceritakan semuanya.
Jangan ceritain semuanya ke siapa-siapa ya.
Aku melanggar rambu-rambu itu. Padahal
malaikat di sisi kanan dan kiriku terus mengawasi. Mencatat setiap kebaikan dan
keburukan yang aku perbuat. Tentu saja aku menceritakan semuanya kepada Dhini,
sesuai kesepakatan awal kami.
*******
Dddrrtt.... Dddrrt.. handphoneku bergetar
tanda sms masuk. Aku menatap layar handphoneku.
‘Dari Sanu? Ada apa?’, gumamku.
Ticha, lo ama Yudhi ama Andi ad rhasia ap?
Eh?
Rahasia? Bingung saya.
Sanu
knp? Kog tiba2 nanya ak sma xan ad rhasia ap?
Kirim ke banyak, Yudhi, Andi. Oke.
Maap ya
Cha gw gk bisa bilang. Ini amanah. Gk blh kan.
Satu pesan masuk lagi dari Andi.
Deg! Ribuan jarum seolah menusuk nusuk jantungku. Membuat
nafasku terasa berat. Air mataku mengalir deras.
“Ya ampuun.. selama ini aku udah menyepelekan amanah.
Udah banyak dusta. Udah ingkar janji. Astaghfirullah, ciri orang yang munafik
ada dalam diri aku. Seburuk-buruknya manusia. Ini nggak boleh berlanjut. Nggak
boleh ada yang ditutup-tutupi lagi. Gak boleh ada rahasia lagi.”, ucapku sambil
menutup wajah.
Pesan pertama untuk Dhini
Dhin,
izinin gw bwt crita smuany k Sanu ya? Gw tau sswt yg diawali dgn kbohongan it
gk baik.
Pesan kedua untuk Sanu
Sanu..
maf bgt. Maf gw uda nyia2in kpecayan lo. Gw uda byk boong. Gw uda ingkar.
Dhini, Andi, Yudhi, mreka smua tw klo lo jug suka Dhini. Smua ini gr2 gw. Tp lo
blh hkum gw kog Nu, lo blh bilang k Andi klo gw ska dy. Gpapa gw siap.
Gw gk
bkal sms dy.
Gw bisa
mnt tlong Dhini ato org lain.
Aku menghubungi Dhini.
“Hallo Dhin, aku boleh minta sesuatu dari kamu? Tolong
sms Andi tentang perasaan aku. Semuanya. Kalau kamu sama Sanu malu, aku juga
harus ngerasain itu. Pliiss.. lakuin Dhin.”
“Enggak. Cukup aku aja yang malu. Kamu nggak perlu.”
“Ini kesepakatan konyol sekaligus bodoh kita berdua. Biar
aku yang hukum diri aku sendiri. Aku sms Andi sekarang!”
Klik. Aku memutus pembicaraan kami.
Sms dari Andi:
Aku tuh
Cuma anggap kmu tmen skaligus sahabat karna yg ada di hti aku cuma satu.
Iy. Ak
tau kog. Yanti kan?
Sms dari Dhini:
Cha?
Gmn? Udah lega kan?
Iy. Km
gmana? Sanu nembak kmu? Xan pcaran?
Enggk.
Ak ttep pda prinsip ak kog.
Iya ak
jug. Ak ttep gak mau pcaran.
*******
Aku tersenyum sebelum memejamkan mata untuk tidur.
“Ya Allah terima kasih untuk kisah yang indah ini. Begitu
unik dan penuh hikmah. Hmm.. aku sadar yang aku rasakan ini hanyalah hawa
nafsu. Kelak izinkan aku untuk mencintai seseorang karenaMu, dengan ridhaMu.
Suatu saat nanti. Jika saat itu tiba. Bukan pacar tapi pendamping.”, kataku
dalam hati.
Hoaaahh.. ngantuk..
“Jadi apa pelajaran hari ini?”
Sudah menjadi kegiatan rutinku bersama pooh untuk
mengevaluasi kejadian setiap hari.
“Pooh sayang.. terbuka itu lebih seru loh daripada
menjadi secret admirer. Gak perlu pusing-pusing bohong untuk menutupi
kebohongan sebelumnya. Aku yakin kalau kejujuran itu selalu indah.”
Klik. Aku mematikan lampu kamarku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar