“pulang sekolah ke rumah lo yuk cha”
“ide bagus tuh, kan ke rumah Dini udah, ke rumah gue sering. Tinggal ke rumah lo nih yang belum pernah”
Potret sebuah rumah kecil dari bilik muncul begitu saja di bayangan. Ah, pantaskah itu disebut rumah? Bahkan kami tidak mempunyai jendela yang bisa dibuka. Dapur tidak ada, ruang tamu, kamar tidur, semuanya berbaur menjadi satu dalam satu petak ruangan. Sesak sekali rasanya.
Aku masih ingat bagaimana repotnya seisi rumah kalau hujan turun dengan derasnya. Aku harus menyelamatkan buku-buku dan barang-barang lainnya. Karena rumah kami dari bilik, jika hujan deras pasti merembes. Pasti semuanya basah. Aku ingat betapa menakutkannya hujan, apalagi kalau disertai angin kencang. Rumah sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan seakan berubah menjadi bangunan yang siap merobohkan diri kapan saja dan menimpa penghuni di dalamnya. Aku malu jika harus membawa teman main ke rumah. Makanya selalu aku tolak dengan berbagai alasan.
“woii.. bengong lo”
“eh iya sorry. Hmm jangan sekarang deh”
