Senin, 30 Januari 2012

Semanis Madu

“pulang sekolah ke rumah lo yuk cha”

“ide bagus tuh, kan ke rumah Dini udah, ke rumah gue sering. Tinggal ke rumah lo nih yang belum pernah”

Potret sebuah rumah kecil dari bilik muncul begitu saja di bayangan. Ah, pantaskah itu disebut rumah? Bahkan kami tidak mempunyai jendela yang bisa dibuka. Dapur tidak ada, ruang tamu, kamar tidur, semuanya berbaur menjadi satu dalam satu petak ruangan. Sesak sekali rasanya.

Aku masih ingat bagaimana repotnya seisi rumah kalau hujan turun dengan derasnya. Aku harus menyelamatkan buku-buku dan barang-barang lainnya. Karena rumah kami dari bilik, jika hujan deras pasti merembes. Pasti semuanya basah. Aku ingat betapa menakutkannya hujan, apalagi kalau disertai angin kencang. Rumah sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan seakan berubah menjadi bangunan yang siap merobohkan diri kapan saja dan menimpa penghuni di dalamnya. Aku malu jika harus membawa teman main ke rumah. Makanya selalu aku tolak dengan berbagai alasan.

“woii.. bengong lo”

“eh iya sorry. Hmm jangan sekarang deh”



“ah elo mah nolak mulu. Kenapa si emang? Nyantai aja kali kita ngga bakal ngerampok makanan kog. Takut bener deh”

“bukan gitu, gue ada urusan. Suer deh”

“yaudah besok deh balik bagi rapot. Sekalian bareng nyokap lo juga kan. Eh lo sama nyokap apa bokap deh ngambil rapotnya? Pokoknya kita nggak mau denger alasan lo lagi. Titik tik tik”

Aku hanya tersenyum kecil. Sebuah senyum yang dipaksakan. Aku terlalu takut kehilangan teman-temanku. Aku bersekolah di sekolah unggulan yang siswa-siswinya dari kalangan atas. Sedangkan aku? Aku tak ingin mereka tau perekonomian keluargaku. Aku takut tidak ada yang mau berteman denganku lagi.



*******

“Assalamualaikum”

“waalaikumsalam”

“bu, besok bagi rapot”

“sama orang tua?”

“diundangannya si gitu.”

“yaudah besok ibu yang ke sekolah, bapak biar tetep jualan aja”

“eh nggak usah. Ambil sendiri juga bisa kog. Ibu bantuin bapak aja”
“yaudah terserah”, kata ibuku seraya pergi melanjutkan pekerjaannya membantu Bapak membuat bakso.

“besok ke sekolah Ticha bu?”, tanya bapak.

“enggak usah katanya pak, udah nggak butuh orang tua lagi dia. Kita udah ngga dianggap”

Jleb! Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Ingin rasanya menangis. Tapi aku yakin ibu mengatakan hal itu dengan hati yang porak-poranda melebihi apa yang aku rasa. Aku tahu ibu bosan. Aku mengerti ibu sudah teramat lelah menghadapi sikapku. Wanita yang begitu kuat menyembunyikan air matanya. Maaf bu, pak, maaf untuk setiap rasa sakit yang aku ukir.

Tapi aku tetap tak ingin teman-teman tahu siapa orang tuaku. Ibuku cuma lulusan SD. Bapak SMP saja tidak tamat. Keduanya bukan dari kalangan berpendidikan. Aku malu jika teman-teman melihat penampilan mereka yang biasa saja. Tidak seperti orang tua lain yang tampak berwibawa dengan jasnya. Aku juga malu kalau teman-teman tahu orang tuaku cuma pedagang. Ya, pedagang keliling. Bapak jualan bakso. Ibu jualan gorengan. Ah, jika ada teman yang melihat aku bersama mereka berikut gerobaknya ingin lari dan bersembunyi saja. Berpura-pura tidak kenal.

Aku iri. Iri melihat teman-temanku yang mempunyai orang tua hebat. Ada yang mengajari jika ada pelajaran yang tidak dimengerti. Lah aku? Orang tua nggak ngerti pelajaran sama sekali. Mau minta ajarin apa? Ngajarin bikin bakso sama gorengan baru mereka jago.

Sering aku merasa lebih hebat dari orang tuaku. Sampai suatu ketika ibuku marah dan berkata dengan keras, “ibu tau kamu pinter. Nggak kayak orang tuanya bodoh. Tapi ini yang kamu dapet di sekolah? Disekolahin tinggi-tinggi malah jadi kayak gini. Sadar. Kita tuh ORANG MISKIN”

Aku memang suka membanding-bandingkan keluargaku dengan keluarga orang lain yang ekonominya jauh di atas kami.
Astaghfirullah, durhaka kah aku? DURHAKA?
Jika itu nama makanan, aku enggan memakannya.
Jika itu label minuman, dehidrasi separah apapun tak sudi aku menenggaknya.
Jika itu sebuah penyakit, ya Rabb jauhkan kami dari wabah itu.
Tuhan, aku menyesal.

*******

Hari sudah senja, ibu sudah siap dengan peralatan tempurnya. Sebuah gerobak besar dengan beragam peralatan beserta aneka gorengan di dalamnya.

‘pasti gerobak itu berat banget ya bu, pasti capek dorong gerobak sebesar itu sendirian setiap hari’, batinku.

Tanpa terasa butir-butir bening mengalir membentuk aliran sungai kecil di pipi. Cepat-cepat aku menyekanya.

“Bu, hari ini Ticha ikut bantu dorong gerobak ya”

“Loh tumben. Nggak takut diliat temennya. Entar kamu malu. Udah nggak usah lah”

“nggak apa-apa bu.”, ucapku sambil tersenyum. Kali ini senyum yang memancarkan ketulusan dari lubuk hati.

*******

“eh Din, itu Ticha kan? Liat deh, cepetan..”

“mana? Eh iya bener”, jawab Lia setelah mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil untuk memperjelas penglihatannya.

“samperin yuk. Ngapain ya dia?”

Aku terkejut melihat dua sahabat terbaikku turun dari honda jazz merah.

“Li, Din, kenalin ini nyokap gue. Orang tua gue cuma pedagang keliling. Rumah gue juga kecil nggak ada sofanya kayak rumah kalian. Rumah keluarga gue cuma satu petak. Itu pun semi permanen. Di kampung, bukan di perumahan elit kayak yang sering gue ceritain. Sekarang kalian udah tau semuanya. Kalian boleh benci gue. Kalian boleh cerita siapa gue sebenernya ke anak-anak di sekolah”, aku tertunduk lemah.

“yaampun cha, gue bener-bener nggak nyangka. Sumpah yaa.. Kecewa banget gue sama lo. Ngapain sih lo pake acara boongin kita-kita segala?”

“3 taun cha. 3 taun lo nyimpen kebohongan ini rapat-rapat.”

“maaf. Maaf. Maaf. Gue cuma takut nggak punya temen. Gue beda sama kalian. Gue bukan orang kaya”

“jadi itu yang ada di pikiran lo? Ticha yang baik . Ticha yang pinter bisa berpikiran sedangkal itu? Kita bukan mau temenan sama rumah lo. Kita nggak peduli sama status lo, miskin atau kaya. Kita tulus mau temenan sama TICHA CANTIKA PUTRI.”

“jadi kalian masih mau sahabatan sama gue?”

Tak ada suara. Hanya isak tangis dan peluk yang menjawabnya.

*******

Entah sejak kapan aku terbangun dari tidur panjangku. Perlahan krisis percaya diri itu terkikis. Entah sejak kapan tepatnya.
Oh iya guru SMA aku pernah bilang, “anak yang hebat nggak malu sama keadaan orang tuanya”.

Dulu aku sering berpikir, “pasti enak jadi orang kaya”. Tapi sekarang enggak lagi. Aku tak rela menukar kehangatan keluarga ini hanya dengan harta yang ngga dibawa mati. Orang tuaku, orang tua terhebat sedunia. Kalau tidak, mana mungkin sekarang aku bisa lulus SMA dan resmi menjadi mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia. Iya kan?

Aku benar-benar menyayangi keluarga kecilku. Mungkin jika aku tiada nanti satu dari sekian banyak hal yang paling aku syukuri dalam kehidupan ini adalah bahwa aku terlahir di sini. Menjadi bagian dari keluarga nomor satu di dunia. Terima kasih Tuhan. Ternyata seperti ini rasanya syukur. Seindah hamparan permadani. Semanis madu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar