Minggu, 20 November 2011

Ujian dalam Universitas Kehidupan

Di dunia ini selalu ada dua kemungkinan. Jika bukan kanan maka kiri. Jika bukan ya, pasti tidak. Diterima atau ditolak. Begitu pun ketika menghadapi ujian dalam universitas kehidupan, kemungkinannya hanya berhasil atau gagal.
Coba kita renungkan. Jika kita berhasil akankah kita berbangga diri dan berlaku sombong? Sebaliknya jika kita gagal akankah kita menghujat Tuhan dan memaki bahwa ia tidak adil?

Sadarilah hidup ini bukan milik kita. Maka jalani saja sebaik mungkin. Semuanya sudah terjamin.
Allah itu Maha Pemberi Rizki.
Allah itu Maha Pemurah.
Allah itu Maha Penyayang.
Allah itu Maha Pengasih.
Allah itu Maha Penjaga.
Allah itu Maha Pemelihara.
Lalu apa yang kita resahkan? Masih ada kah?


Tahukah kamu mengapa Allah merahasiakan masa depan? Allah merahasiakan masa depan untuk menguji kita agar berprasangka terbaik, berencana terbaik, berupaya terbaik, bersyukur, dan bersabar.

Selama manusia hidup, kita tidak akan pernah berhenti diuji. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian demi ujian itu? Kita belajar keras untuk lulus Ujian Nasional, masuk perguruan tinggi yang diimpikan, mendapat nilai A saat ujian akhir. Lalu mengapa kita tidak mempersiapkan diri untuk ujian di Universitas Kehidupan?

Rasulullah pernah menggambar sebuah garis lurus yang terpenggal oleh komposisi garis berbentuk persegi panjang di tanah dengan ranting. Garis lurus itu menggambarkan hidup kita, cita-cita kita, dan kotak itu adalah kematian yang akan memenggalnya.

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata :
Nabi saw membuat gambar empat persegi panjang. Di tengah-tengah, seraya bersabda,
‘Ini adalah manusia dan empat persegi panjang yang mengelilinginya adalah ajal. Garis yang di luar ini adalah cita-citanya, serta garis yang pendek-pendek adalah hambatan-hambatannya. Apabila dia dapat menghadapi hambatan yang satu, dia akan menghadapi hambatan-hambatan yang lain, dan apabila dia dapat menghadapi hambatan-hambatan yang lain, dia akan menghadapi hambatan yang lain lagi.

Untuk teman-teman yang sedang diuji dengan keberhasilan. Alhamdulillah. Tapi ingat jangan terlalu senang dan berbangga diri. Kenapa? Pepatah bilang “hidup itu seperti sekotak coklat, kita tidak tahu apa yang kita dapat.”
Kita tidak tahu ujian atau hambatan apa lagi yang tengah menanti kita di depan sana. Bisa saja kita digagalkan melewati ‘kawat berduri’ (loh? Emangnya maling?) berikutnya. Who knows?

Untuk kita yang masih gagal dan mendapat nilai E dalam mata kuliah perjuangan di Kampus Kehidupan ini, la tahzan yaa. Tetap berikan senyum termanis untuk dunia. Sekarang kita boleh merasakan sakitnya jatuh. Kita bisa saja terpeleset saat melewati jalan yang licin. Tapi itu untuk memberitahu kita agar tidak melewati jalan yang sama yang membuat kita terjatuh. Agar kita lebih terjaga. So, keep spirit guys.. ayo bangkit !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar