C2S
![]() |
| we r Onk :) |
Senja
hampir turun namun siswa siswi Sakura Senior High School masih saja terlihat sibuk.
Derap kaki anak-anak paskibra, pantulan bola basket, jerit manja para
cheerleaders. Tidak sedikit juga yang menghabiskan waktu di sekolah hanya untuk
main-main.
“Onk..
main True or Dare yuk”, ideku.
“Boleh..siapa
takut?”, empat anak Onk lainnya menyanggupi.
Onk
adalah nama persahabatan kami. Terlahir begitu saja saat kelas sepuluh satu dulu.
Awalnya hanya keisengan Martha, teman kami yang paling cantik dan kalem itu selalu
menambahkan nama kami dengan kata Onk. Tanpa makna memang. Tapi dari sana lahirlah
Dhionk, Putronk, Nionk, Marthonk, dan aku Tichonk. Membuatku tertawa geli.
*******
Jreng-Jreng…
Permainan dimulai, aku yang pertama kali memutar botolnya. Dan.. tutup botol Pulpy Orange itu menatap bisu ke arah
Martha seakan berkata, “kamu giliran pertama. Ayo jawab pertanyaannya dengan jujur
atau teman-temanmu akan menghukummu”.
“Apa
nih pertanyaannya?”, Tanya Nia dengan wajah bingungnya.
“Siapa
cowok yang lagi lo suka di sekolah ini?”, Dhini mengajukan pertanyaan.
Tik
tok tik tok tik tok… cukup lama kami menunggu.
“Ihh..
Martha jawab”, aku mulai geregetan dibuatnya.
“Hhmmm..gue…
suka… sama… Satya”, jawab Martha dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Kami
saling menatap satu sama lain.
“Kog
bisa Tha?”, selidik Putri.
“Iya, gara-gara liburan akhir semester kemarin loh.Gue liat Satya tuh yang bener-bener keren terus care banget sama gue.”
“Iya, gara-gara liburan akhir semester kemarin loh.Gue liat Satya tuh yang bener-bener keren terus care banget sama gue.”
*******
Botol
kembali berputar. Dan… Deg! Kali ini menatap tajam ke arahku.
“Sial!”,
bisikku pelan.
“Jadi
apa yang mau kalian tau?”
“Apa
lo suka sama Sanu?”, Tanya Nia.
Hhuuuuff..
sudah kuduga. Dia penasaran sekali dengan hal itu
“Kagaklah.
Ngaco! Pasti karna comment ama
wall-wallan kita di facebook ya? Hmm.. cowok yang gue suka itu… duh jangan diketawain
ya janji?”
Mereka
mengangguk bersamaan.Wajah mereka terlihat semakin penasaran.Wajarlah, aku memang
yang paling tertutup dan suka menyimpan rahasia. Jadi walaupun kami bersahabat,
tidak banyak yang mereka ketahui. Invers dari
sikap mereka yang selalu terbuka.
“Cowok
yang gue suka itu… hmm..duuh.. Andi”, aku mengatakannya dengan terbata-bata dan menunduk. Menyembunyikan wajahku
yang seperti kepiting rebus karena malu.
*******
Pprriiiit…
Pprrriiitt…..
“Pulang-pulang!
Masih main aja udah sore! Buruan pulang!”
Ffiiuuuuh…
pak Ahmad, satpam sekolah kami yang tampak kejam itu berpatroli untuk menetralkan
area sekolah dari makhluk-makhluk seperti kami yang masih saja betah nongkrong
di sekolah hingga hari senja.
“Ih
curang!”
“Gak
adil!”
“Iya,
masa Putri sama Nia gak ditanya.”
Aku,
Dhini, dan Martha terus menggerutu di sepanjang jalan menuju gerbang. Sedangkan
Putri dan Nia hanya nyengir kuda.
“Eh
Cha, ngomong-ngomong kapan nih kita ke toko buku?”
“Hm..
kapan ya Dhin? Eh tuh ada Andi sama Yudhi di parkiran. Tanya mereka aja yuk.
Sama mereka kan ke toko bukunya?”
Aku
dan Dhini menghampiri mereka sedangkan yang lainnya pulang duluan. Akhirnya
kami sepakat untuk pergi ke toko buku hari Sabtu ini.
“Ticha,
mau pulang bareng gak?”, ajak Yudhi.
“Hmm..boleh
deh.”, bergegas aku naik ke motor.
Sebelum
kami keluar gerbang terdengar sayup-sayup adzan maghrib yang menyeru untuk shalat
dan meraih kemenangan.
“Eh
udah adzan, balik lagi yuk. Shalatdulu.”
Yudhi
pasrah saja mengembalikan motornya ke tempat semula dan memerintahkannya untuk menunggu
sejenak sementara tuannya shalat maghrib.
*******
Jalan
sedikit ramai di petang hari.Aku memandang lurus ke depan,menatap lampu-lampukendaraan
yang menyilaukanmata.
“Eh
Yud, Andi sama Yanti itu beneran jadian gak sih?”
“Iya
beneran. Emang lo gak baca statusnya di f b?”
“Oh..
baca kog baca”
“Kenapa?
Lo suka sama dia ya?”
“Ha?
Enggak. Enggak kog. Cuma nyaman aja kalo curhat sama dia. Tapi enggaklah. Gak bakal
suka gue.”
*******
Hhh…
aku menghempaskan tubuhku. Melepas lelah setelah sehari penuh beraktivitas. Memeluk
bantal pooh kesayanganku dan menatap langit-langit kamar yang putih bersih.
“Bukan
kita yang menentukan cinta, tapi cintalah yang memilih kita.”, aku terus memikirkan
kata-kata Dhini yang diucapkannya pagi tadi.
“Iya.
Bener juga ya kata Dhini tadi. Cinta yang memilih kita. Aaahh… aku nggak mau suka
sama dia. Gak boleh! Gak boleh! Hhuuh… cupid, kenapa kamu harus menancapkan panahmu
kehatiku? Hm… atau panah nyasar ya? Cinta.Cinta.Cinta. Apa sih cinta? Cinta itu
kayak hukum kekekalan energi. Gak bisa dimusnahkan. Gak bisa diciptakan. Rasa
cinta ini hanya bisa diubah bentuknya dari bentuk cinta yang satu ke bentuk cinta
yang lain. Iya kan?”, aku terus saja berbicara tanpa henti seolah-olah bantal kuning
berbentuk kepala beruang ini bisa bicara. Padahal ia terkulai lemah dipelukanku.
Hanya tatapan kosong dan senyum yang tak berubah.
“Ah iipooh, andai aja kamu bisa bicara. Atau coba aja kamaraku bisa disulap kayak negeri dongeng. Kan asik bisa curhat sama boneka-boneka.”, khayalku.
“Ah iipooh, andai aja kamu bisa bicara. Atau coba aja kamaraku bisa disulap kayak negeri dongeng. Kan asik bisa curhat sama boneka-boneka.”, khayalku.
*******
Tak
terasa hari Sabtu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Dhini terlihat begitu bersemangat.
“Idih
ini kutu buku semangat bener”, sindirku.
Namun
sayangnya Yudhi membatalkan rencana kami secara sepihak. Oh tidak, aku tidak bisa
membiarkan sahabatku kecewa. Aku menghampiri Yudhi.
“Yudhi!
Mana? Katanya gak mau bikin orang kecewa? Sekarang apa?”
“Yaampun
Ticha… hari ini gue bener-bener nggak bisa.”
Yudhi
menghampiri Dhini. Sementara dia terus meminta maaf dan meminta pengertian, aku
dan Andi duduk diam. Saat itulah aku melihat senyumnya yang begitu manis dan matanya…
yup, matanya yang teduh damai telah menyihirku. Astaghfirullah! Cepat-cepat aku
menundukkan pandangan.
to be continue.. ^^


kayak pernah baca mun...
BalasHapus